Widget HTML #1

Cara Presiden Soeharto dalam Mengatasi Kemiskinan di Indonesia

Presiden Soeharto, yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade (1967-1998), dikenal sebagai salah satu pemimpin yang berhasil membawa perubahan signifikan dalam pembangunan ekonomi. Salah satu prestasi yang sering dikaitkan dengan masa pemerintahannya adalah penurunan tingkat kemiskinan secara drastis. Dalam artikel ini, kita akan membahas kebijakan-kebijakan utama Soeharto dalam mengatasi kemiskinan dan dampaknya terhadap masyarakat Indonesia.


Latar Belakang Kemiskinan di Awal Orde Baru

Ketika Soeharto mengambil alih kepemimpinan pada 1967, Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang sangat lemah. Tingkat kemiskinan tinggi, inflasi melonjak hingga 650%, dan banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Perekonomian Indonesia pada masa itu sangat bergantung pada sektor pertanian tradisional, yang mengalami stagnasi akibat minimnya investasi dan infrastruktur yang buruk.


Kebijakan Ekonomi dan Pembangunan

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Soeharto menerapkan sejumlah kebijakan ekonomi yang dirancang untuk menstabilkan perekonomian dan menurunkan tingkat kemiskinan. Beberapa kebijakan tersebut meliputi:

a. Stabilisasi Ekonomi

Salah satu langkah pertama yang dilakukan Soeharto adalah menstabilkan ekonomi makro melalui program stabilization and rehabilitation. Pemerintah bekerjasama dengan IMF dan Bank Dunia untuk mendapatkan bantuan keuangan dan teknis. Kebijakan ini berhasil menurunkan inflasi dan memperbaiki neraca pembayaran.

b. Program Pembangunan Lima Tahun (Pelita)

Pelita diperkenalkan sebagai kerangka kerja pembangunan nasional yang berfokus pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan produktivitas. Setiap tahap Pelita memiliki sasaran yang jelas, seperti meningkatkan hasil pertanian, membangun fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta menciptakan lapangan kerja.

c. Revolusi Hijau

Revolusi Hijau menjadi salah satu tonggak utama dalam upaya mengentaskan kemiskinan, khususnya di pedesaan. Pemerintah mendorong penggunaan teknologi modern dalam pertanian, seperti penggunaan pupuk, pestisida, dan bibit unggul. Melalui program ini, produksi padi meningkat secara signifikan, sehingga Indonesia mencapai swasembada pangan pada 1984.

d. Inpres Desa Tertinggal

Program Instruksi Presiden (Inpres) Desa Tertinggal dirancang untuk membangun infrastruktur dasar di desa-desa, seperti jalan, irigasi, sekolah, dan pusat kesehatan. Tujuannya adalah untuk mengurangi kesenjangan antara desa dan kota serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan.


Dampak Kebijakan Terhadap Penurunan Kemiskinan

Menurut data Bank Dunia, tingkat kemiskinan di Indonesia menurun dari sekitar 70% pada akhir 1960-an menjadi sekitar 11% pada awal 1990-an. Beberapa indikator utama keberhasilan tersebut adalah:

  • Peningkatan Pendapatan Per Kapita: Pendapatan per kapita meningkat dari sekitar $50 pada 1967 menjadi lebih dari $1,000 pada 1997.
  • Penurunan Angka Buta Huruf: Program pendidikan yang gencar membantu menurunkan angka buta huruf secara signifikan.
  • Peningkatan Akses Layanan Kesehatan: Dengan adanya pusat-pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), angka kematian bayi dan ibu menurun drastis.

Warisan dan Pelajaran

Warisan Soeharto dalam mengatasi kemiskinan tetap menjadi topik yang relevan dalam diskusi kebijakan publik di Indonesia. Keberhasilan pembangunan di era Soeharto menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang, investasi dalam infrastruktur, dan peran negara dalam menggerakkan ekonomi. Namun, pengalaman tersebut juga mengingatkan kita akan perlunya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.


Kesimpulan

Kepemimpinan Presiden Soeharto meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah pembangunan Indonesia. Keberhasilannya dalam menurunkan tingkat kemiskinan melalui berbagai program pembangunan telah mengubah wajah Indonesia secara signifikan. Meski diwarnai kritik, upaya-upayanya dalam mengentaskan kemiskinan memberikan banyak pelajaran berharga bagi generasi penerus dalam membangun bangsa yang lebih sejahtera.