Widget HTML #1

Perundingan 30 Oktober 1945: Awal dari Pertempuran Surabaya yang Mencetak Sejarah Hari Pahlawan


 Pada 30 Oktober 1945, berlangsung sebuah perundingan bersejarah di Surabaya antara pihak Indonesia dan pihak Sekutu, yang pada saat itu dipimpin oleh Inggris. Perundingan ini bertujuan untuk meredakan ketegangan antara kedua belah pihak yang semakin memanas setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Namun, perundingan yang diharapkan bisa mengurangi konflik justru berakhir tanpa kesepakatan dan memicu pertempuran yang lebih besar, yaitu Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Latar Belakang Perundingan

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Namun, Belanda yang sebelumnya menjajah Indonesia tidak ingin kehilangan kendali begitu saja. Mereka ingin kembali menegakkan kekuasaan kolonial dengan bantuan Inggris yang diberi mandat untuk mengurus wilayah bekas jajahan Jepang di Asia Tenggara. Inggris mengirim pasukannya ke Indonesia dengan tujuan utama melucuti tentara Jepang yang tersisa serta mengembalikan situasi keamanan.

Kehadiran pasukan Inggris di Surabaya memicu ketegangan antara para pemuda Indonesia yang bertekad mempertahankan kemerdekaan dan pihak Sekutu yang dipersepsikan sebagai ancaman kembalinya kekuasaan kolonial. Ketegangan memuncak setelah insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945, di mana para pemuda Surabaya mengganti bendera Belanda dengan bendera merah putih sebagai simbol perjuangan.

Perundingan 30 Oktober 1945

Dalam upaya untuk menghindari konflik yang lebih besar, pihak Indonesia dan Inggris melakukan perundingan pada 30 Oktober 1945. Dalam perundingan ini, Gubernur Suryo mewakili pihak Indonesia, sementara Brigadir Jenderal Mallaby mewakili Sekutu. Namun, perundingan tidak berjalan lancar karena masing-masing pihak memiliki tujuan yang berbeda. Indonesia bertekad mempertahankan kemerdekaannya, sementara pihak Sekutu (Inggris) menginginkan agar para pemuda menyerahkan senjata mereka dan tidak menentang kehadiran Sekutu di Surabaya.

Situasi semakin memanas ketika terjadi salah paham dan bentrokan di lapangan. Pada akhir perundingan, Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam insiden penyerangan terhadap mobilnya. Kematian Mallaby memperburuk situasi dan memicu kemarahan pihak Inggris.

Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Insiden tewasnya Mallaby membawa konsekuensi serius. Inggris mengultimatum warga Surabaya untuk menyerahkan senjata dan tunduk pada Sekutu. Namun, ultimatum ini ditolak oleh para pejuang Indonesia yang dengan tegas ingin mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih. Pada 10 November 1945, pasukan Inggris melancarkan serangan besar-besaran di Surabaya, yang kemudian menjadi awal dari Pertempuran Surabaya.

Pertempuran ini melibatkan perlawanan heroik dari rakyat Surabaya. Dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal dan didukung oleh pemuda dari berbagai kalangan, rakyat Surabaya menghadapi kekuatan militer Inggris yang lebih modern dan terlatih. Perlawanan gigih dari para pejuang Indonesia di Surabaya selama pertempuran ini menjadi simbol keteguhan dan keberanian bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan.

Makna Hari Pahlawan

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak hanya meninggalkan cerita heroik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh bangsa Indonesia. Untuk mengenang keberanian para pejuang Surabaya, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari ini menjadi momen bagi bangsa Indonesia untuk menghormati para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan dan mengingatkan pentingnya mempertahankan kedaulatan dan persatuan bangsa.

Kesimpulan

Perundingan 30 Oktober 1945 di Surabaya adalah titik awal dari rangkaian peristiwa yang berujung pada Pertempuran Surabaya, sebuah peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Walaupun perundingan tersebut tidak berjalan mulus, kegigihan para pemuda Surabaya melawan pasukan Sekutu di bawah ancaman senjata menjadi contoh nyata dari semangat perjuangan untuk merdeka. Hingga saat ini, pengorbanan mereka dikenang setiap tahun pada Hari Pahlawan, sebagai pengingat akan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan membangun negara yang berdaulat.